Kata ayah, belajar itu pahit, tapi manis buahnya. Yes, I have learned a lot, and now I get the fruit. You have no idea how sweet it is. Thanks dad.

Entah apa yang meracuni pikiranku, tapi saat ini, Jumat dini hari, tiba-tiba pikiranku melayang ke tahun-tahun awal aku menapaki hidup. Tahun-tahun yang lucu, terkadang susah juga, hingga sekarang sampai di satu titik yang tidak aku sangka sebelumnya.

Dulu pas kecil (TK kalau ga SD awal-awal), rasanya kalau berangkat sekolah itu males banget. Pagi-pagi harus bangun dan mandi yang sebenarnya mengganggu hangatnya selimut. Masih jelas di ingatan, suatu ketika saat aku dimandikan kemudian mengeluh karena dingin, ayah berkata, "Belajar itu pahit, tapi manis buahnya." Seketika aku diam dan meyakini hal itu. Aku lantas semangat dan pergi ke sekolah.

Suatu ketika saat kelas 1 SD, ayah menggandengku berjalan keluar kampung. Waktu itu sekitar maghrib dan gerimis turun. Saat keluar kampung, ayah bertanya, "Memangnya kalau sudah besar, kamu mau jadi apa?" Aku bingung harus menjawab apa, tapi aku ingat film yang pernah aku tonton. Di film itu diperlihatkan, seseorang yang berhadapan dengan layar komputer yang menampilan grafik-grafik. Aku tak tahu orang itu kerjanya apa atau sedang ngapain, tapi pokoknya itu keren banget, dan aku sangat tertarik dengan apa yang dilakukan orang itu. Lantas dengan mendongak ke ayah, aku menjawab dengan mantap, "Aku pengen jadi itu loh, pokoknya orang yang kerjanya di komputer."

Hari berganti hari, semua berjalan seperti hidup kebanyakan orang. Hingga akhirnya aku duduk di bangku kuliah. Well, kuliah itu sebuah proses pembelajaran yang harus dipertanggungjawabkan oleh tiap individu. Kamu boleh ga masuk kuliah, nyontek, atau beli nilai. Tapi kamu harus bertanggung jawab atas semua itu kelak.

Di bangku kuliah inilah, I learned a lot of things. Orang mungkin berpikir, caraku belajar itu gila. Hujan pas malam-malam direlain pergi ke Surabaya (dari Sidoarjo) cuma buat menghadiri 1 kelas. Kuliah ga bawa uang, cuma bekal bensin 1 liter di tanki motor untuk pergi dan pulangnya. Atau belajar coding sampe tiga hari non-stop sampe lupa mandi. Atau hal yang lain. Pahit? Iya banget. Tapi aku percaya, akan terasa manis buahnya. Aku ingat kata-kata ayah.

Hingga aku sudah sampai di posisiku sekarang. Menjadi seorang pribadi yang sungguh aku ingin-inginkan sejak dulu: programmer. Ini adalah hal yang sangat membanggakan bagi siapapun, terutama orang tua. Aku yakin, saat mereka ditanya tentang profesi anaknya, mereka hanya bisa senyum-senyum karena tidak paham betul dengan profesiku, dan hanya bisa berkata, "Pokoknya orang yang kerjanya di komputer."

Anyway, sekarang aku sudah mulai merasakan buah manisnya. Ini masih jauh dari kata "memakan," masih sekedar "mencicipi" buahnya, tapi sudah teramat manis rasanya. Please never ask about my monthly salary, it's beyond your imagination. Ini bukan masalah menyombongkan diri atau apa, tapi aku cuma mau bilang, kalau kata-kata ayahku benar. Buahnya belajar itu sungguh manis.

Sebagai penutup, aku kasih tambahan. Sebenarnya yang pahit itu bukan cuma belajar. Kebanyakan proses (kalau ga semua) itu rasanya pahit. Tapi semua yang pahit, tidak selalu berakhir dengan buah yang manis. Bingung? Then it's time for you to learn about it. Trust me, you'll get the prize. Belajarlah, kamu akan merasakan manis buahnya.

--

Yang pengen beliin ayah motor BMW,
Rhana Rhadhiyant