Yap, perjuangan tujuh tahun kuliah akhirnya berakhir sudah. Janji-janji telah terbayarkan. Perjuangan telah usai.

Sekarang Minggu dini hari. Suasananya sunyi, enak dipakai menyendiri dan merenung.

Alhamdulillah. Dua hari yang lalu, hari Jumat, aku sudah melewati sidang skripsi. Rasanya deg-degan, kacau, hancur. Tapi alhamdulillah para dosen penguji memberiku nilai AB. Sebuah nilai yang hampir sempurna untuk ukuran skripsi.

Masuk ruang sidang, terasa gimana gitu. Kayak mau pingsan saking gugupnya, tapi aku harus tetap jalan. Pas presentasi pun, dosen ga ada yang memperhatikan. Gila. Mereka ini niat sidang apa ga ya...?

Akhirnya presentasi pun selesai. Sesi tanya jawab. Oke. Dosen penguji baru membuka lembaran skripsiku. Dan sepertinya seh baru kali ini dibuka. Dan you know what? Mereka langsung bisa memahami apa yang aku tulis, mendapatkan poin-poin peneting, dan mengemukakan kesalahan-kesalahan skripsiku. Dosen tingkat dewa! Parahnya, sebagian besar pertanyaan yang mereka lontarkan, aku ga bisa jawab!

Rasanya pengen pingsan aja.

Tapi setiap kali aku nyerah, mereka langsung beralih ke pertanyaan slelanjutnya. Sebuah kondisi yang membuat aku bersyukur karena tidak harus berhenti di satu pertanyaan saja. Paling-paling nanti aku buat revisi saja untuk kesalahan-kesalahanku. Rasanya aku ini memang diluluskan. Dan sidang ini hanya formalitas yang harus dilalui. Gimana ya, banyak sekali hal mendasar yang ditanyakan dan aku tidak bisa menjelaskan dengan baik. Semestinya aku diminta mengulang, namun tetap diluluskan. Tapi tetap saja rasanya deg-degan.

Hingga akhirnya sidang usai. Dan akupun lulus. Rasanya senang sekali. Yap, perjuangan tujuh tahun kuliah akhirnya berakhir sudah. Janji-janji telah terbayarkan. Perjuangan telah usai.

Aku sangat bersyukur sekali dengan karunia yang aku dapat. Doa dari banyak orang yang mencintaiku, ibu dan ayah, saudara-saudara, kekasih, teman-teman, sampai dosen pembimbing pun aku minta doanya. Haha.

Alhamdulillah. Aku sangat bersyukur. Ga tau aku harus ngomong apa.

 

--

Yang lagi speechless,
Rhana Rhadhiyant