Sekarang Hari Selasa. Tiga hari ke depan, tepatnya hari Jumat, aku akan menghadapi sidang skripsi. Rasanya deg-degan. Semua yang aku dapat selama kuliah akan dipertaruhkan.

Beberapa hari ke depan aku akan menghadapi ujian skripsi. Rasanya deg-degan. Semua yang aku dapat selama bertahun-tahun belajar di bangku kuliah akan dipertaruhkan dalam ruang sidang. Aku tidak ingin melakukan kesalahan, apapun itu bentuknya. Tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Nah, keinginan untuk tidak melakukan kesalahan sekaligus ketidaktahuan apa yang akan terjadi itulah yang membuat deg-degan.

Kilas balik ke belakang saat pertama aku memulai perjalanan di Universitas Airlangga, aku yang pada waktu itu hanya seorang pemuda tanggung dengan adik yang kecil-kecil bangun pagi-pagi sekali. Tidak seperti biasa. Langsung mandi dan siap-siap. Tak lama kemudian, Satria sudah menjemput ke rumah. Kami berdua berangkat untuk mengikuti SNMPTN.

Aku pada waktu itu sedang berusaha untuk bangkit dari keterpurukan. Berusaha sebaik mungkin untuk mencapai posisi di mana aku berada sebelum aku terjatuh. Menahan dinginya udara pagi, ketidaktahuan materi tes, dan ketidakpastian nasib, aku dan Satria berangkat ke Surabaya. Saat itu, aku tak tahu apa yang akan aku hadapi.

Dua hari berturut-turut aku mengikuti tes SNMPTN. Setelahnya, aku pasrah. Posisiku waktu itu sudah terdaftar sebagai mahasiswa di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Jadi kalaupun aku tidak lolos tes, toh aku sudah kuliah. Dan mungkin sudah takdirku untuk kuliah di situ. Jadi selama masa penantian hasil SNMPTN, aku tidak merasa gugup. Pasrah.

Hingga hari pengumuman tiba. Aku lolos masuk Universitas Airlangga. Jurusan Manajemen. Sebuah jurusan yang cukup bergengsi di universitas yang bergengsi. Aku sangat senang sekali. Rasanya masa depanku terbuka cerah.

Perlahan aku bangkit. Belajar dan mengikuti pencak silat untuk menambah pertemanan. Berjalan meningglakan masa lalu yang membuatku terjatuh. Banyak hal yang aku lalui, aku dapatkan, dan aku tinggalkan selama masa kuliah di tempat ini. Sebuah tempat yang sangat indah untuk belajar.

Sekarang Hari Selasa. Tiga hari ke depan, tepatnya hari Jumat, aku akan menghadapi sidang skripsi. Rasanya deg-degan. Semua yang aku dapat selama kuliah akan dipertaruhkan.

Jujur saja, tujuh tahun aku berada di bangku kuliah. Dari adik-adikku masih kecil-kecil hingga sekarang sudah punya pacar semua. Well, ada saja hal yang membuatku harus menempuh waktu kuliah selama itu. Tapi sumpah bukan karena aku bodoh, aku jamin itu. Dengan waktu kuliah yang sangat panjang, wajar jika kelulusan menjadi sangat aku idam-idamkan. Saat teman-temanku menjalani sidang mereka, aku merasa iri. Saat mereka wisuda, hatiku sakit. Dan saat tahu mereka sudah bekerja di perusahaan elit, aku hancur. Sekarang giliranku untuk sidang skripsi. Deg-degan, tapi inilah yang aku tunggu-tunggu.

Bismillah. Semoga semuanya berjalan lancar. Amin.

Ada beberapa hal yang akan aku ingat jika aku tegang. Sekedar catatan untuk diriku pribadi. Di antaranya:

  1. Allah tempat berserah diri.
  2. When my mama says "Okay go on," then nothing bad can happen.
  3. Sidang ini adalah satu-satunya jalan untuk menikah.
  4. Saat lihat teman-teman wisuda, rasanya sakit. Saat inilah giliranku untuk mengejar ketertinggalan.
  5. Melihat teman-teman sudah banyak yang berhasil dan dewasa, sidang yang akan aku lalui ini hanyalah hal yang kecil bagi mereka. Tidak usah dibesar-besarkan dengan deg-degan.
  6. Ada banyak teman, adik-adik angkatan, adik-adik kelas saat SMA, apalagi yang cewek, yang sangat lemah dan pemalu serta mungkin lebih mampu aku daripada mereka. Nyatanya, mereka bisa melewati skripsi dan mendahuluiku. Kenapa aku tidak? Kenapa aku musti deg-degan?
  7. Sidang skripsi ini adalah satu-satunya jalan untuk mendapatkan strata yang lebih baik. Perjalananku masih jauh. Aku ingin S2 dan menjadi master dalam ilmu pengetahuan. Sekedar sidang skripsi justru adalah hal yang kecil. Aku akan melahapnya untuk dapat mencapai impianku yang tinggi.
  8. Aku ingin menjadi seorang yang berhasil di dunia. Artis-artis muda, pembalap, pemain sepak bola, semua sukses di usia awal 20an tahun. Aku? Sudah 26 tapi masih belum apa-apa. Aku ingin dewasa, dan sidang skripsi ini adalah pelajaran awalku untuk menjadi dewasa. Selanjutnya aku ingin menjadi pengusaha yang dewasa menghadapi dunia di luar sana dan meraih kesuksesan.
  9. Ada dosen wanita yang begitu pemalu. Nyatanya sekarang sudah menjadi doktor dan menjadi tegas. Pendidikan dan tekanan itu mendewasakan. Kenapa aku tidak bisa seperti dia? Aku bisa!
  10. Pacarnya adikku itu sekarang sedang menempuh pendidikan S2 di luar negeri. Gila! Kemungkinan besar dia usianya di bawahku, tapi sudah mencapai level di atasku. Dia kuliah di luar negeri, menghadapi hal yang mungkin aku tidak bisa menghadapi. Dan sidang thesisnyan akan lebih menakutkan daripada sidang skripsiku. Aku kalah darinya dan yang dia hadapi jauh lebih berat. Lantas, mengapa aku kemudian merengek-rengek dan deg-degan dengan sidangku yang kecil ini?
  11. Aku sudah tujuh tahun kuliah. Apa lagi yang mau dikhawatirkan? Toh lulus kuliah juga sudah telat banget.
  12. Terlepas dari betapa banyaknya masalah nanti, besar atau kecilnya arti sidang ini, betapa mengerikannya rintangan yang dilontarkan dosen penguji nanti, semua akan aku hadapi. Bagaimanapun skripsi ini adalah buatanku sendiri. Aku tahu apa yang aku tulis, dan aku mampu menjelaskannya. Insya Allah aku akan mampu menghadapinya.
  13. Kebanyakan deg-degan, syaraf deg-deganku sudah putus!

Esok sidang skripsi. Aku akan hadapi itu. Demi masa depanku.

--

Yang akan sidang skripsi,
Rhana Rhadhiyant