Aku adalah pemilik unta-unta itu, sementara Ka'bah ada pemiliknya sendiri yang akan melindunginya.

Saat hendak menghancurkan Ka'bah, Abrahah juga merampas 200 unta milik Abdul Muthalib (kakek Nabi). Abdul Muthalib sebenarnya sudah berusaha mempertahankan Ka'bah, namun apa daya, Abrahah tetap juga kukuh pada niatnya. Lantas yang dilakukan Abdul Muthalib adalah datang kepada Abrahah hanya untuk meminta untanya saja.

Abrahah: "...bagaimana mungkin ia (Abdul Muthalib) lebih mementingkan unta-untanya dan membiarkan rumah ibadah yang menjadi agamanya dan agama nenek moyangnya aku hancurkan."

Abdul Muthalib: "Aku adalah pemilik unta-unta itu, sementara Ka'bah ada pemiliknya sendiri yang akan melindunginya."

Abarahah: "Dan sekarang ini, Tuhannya Ka'bah itu tak mampu menghalangiku."

Abdul Muthalib: "Itu urusan Anda dengannya."

"Demi Allah SWT kami tidak ingin berperang dengan Abrahah dan kami juga tidak mampu memeranginya. Ini adalah rumah Allah SWT dan rumah kekasihnya, Ibrahim," kata Abdul Muthalib

Setelah mendapatkan kembali unta-untanya, Abdul Muthalib memerintahkan seluruh penduduk menuju bukit dan lembah untuk meninggalkan Mekkah. "Wahai Tuhanku, aku tidak berharap siapapun mengalahkan mereka selain engkau," kata Abdul Muthalib dalam salah satu doanya kepada Allah SWT.

Selanjutnya adalah cerita kekalahan Abrahah yang sering kita dengar dan diabadikan di dalam Al Quran.

---

Ini adalah sebuah contoh yang bisa kita tiru dalam menyikapi siapapun yang menistakan agama Islam. Oke, sebagai seorang muslim, kita harus tetap berusaha menolong agama ini. Barang siapa yang menolong (agama) Allah, maka Allah menolongnya. Bukan begitu?

Jika penistaannya dilakukan beserta pertumpahan darah seperti di Palestina, maka berjuang di pertempuran patut dilakukan. Menjadi pejuang yang mengorbankan jiwa dan raga. Jika gugur insya Allah akan syahid.

Jika penistaannya tidak sampai menghilangkan jiwa, maka debat atau penuntutan hukum patut diperjuangkan. Menyusun materi yang cerdas dan berdebat seperti Ahmed Deedat. Atau menuntut pelakunya dengan hukum yang berlaku agar diadili. Juga doa menjadi jalan alternatif, sebab doa itu senjatanya umat Islam. Dan karena kita hidup di zaman modern, pemanfaatan media sosial untuk membentuk opini publik juga patut dipertimbangkan.

Namun bagaimana jika terjadi penistaan namun semua upaya itu di luar kemampuan kita, atau kita bisa melakukan sesuatu tapi dalam ranah yang terbatas? Tentu kita mempunyai batasan dalam bertindak. Dan jika dipaksakan, khawatir justru akan meninggalkan kewajiban yang lebih utama, padahal sudah ada pihak lain yang bisa melakukannya. Jangan sampai umat Islam mudah terprovokasi secara berlebihan sehingga semuanya kehilangan fokus, tenaga, dan waktu serta menghambat kemajuan yang mestinya kita raih.

Bertawakkal. Berusaha semampunya. Setelah itu serahkan urusan kepada Allah. Karena Islam adalah agama Allah, Al Quran adalah firman Allah, Nabi Muhammad adalah kekasih Allah, dan Ka'bah adalah rumah Allah. Biarkan saja orang-orang mencari gara-gara itu berurusan langsung dengan Allah Sang Pemilik. Dipikir urusannya gampang apa? Tinggal dilihat saja kelanjutannya nanti. Bisa jadi dikasih hidayah terus taubat kayak Arnoud Van Doorn (semoga). Atau kalau ga gitu, ya tinggal ditunggu aja berita kecelakaannya terus kita tinggal senyum nyinyir ke mereka.

Kita tidak boleh sekalipun meninggalkan Islam. Bagaimanapun Abdul Muthalib telah memberikan salah satu contoh yang baik bagaimana melakukannya.