Allah itu Maha Baik. Dia memberikan yang terbaik bagi hamba-hambanya, bahkan walaupun hambanya itu tidak meminta.

Allah itu Maha Baik. Dia memberikan yang terbaik bagi hamba-hambanya, bahkan walaupun hambanya itu tidak meminta. Bukankah kita tidak pernah meminta akal, tapi kemudian Allah memberikannya dan menjadikan kita makhluk termulia?

Setidaknya itulah yang aku yakini selama ini. Allah itu Maha Baik. Dan sekali lagi, pada saat ini, aku membuktikan dan merasakan kebaikan Allah. Satu kebaikan yang sangat manis dan menyejukkan hati.

Pernah aku mengalami masa yang sulit. Saat itu semangat yang pernah aku miliki hilang. Hidup segan, mati pun tak mau. Lantas aku berdoa kepada Allah, meminta kepada-Nya agar diberikan obat atas masalah yang aku alami. Atau, seseorang yang denganya lara hati bisa lebur dan hilang.

Dan aku berjanji, siapapun dia yang diberikan Allah itu, aku akan menjaga dan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya.

Hingga aku telah sampai pada saat sekarang. Masalahku belum benar-benar selesai semua. Tapi setidaknya aku merasa senang. Tahukah kenapa? Karena Allah sudah menjawab doaku. Seseorang telah datang, dan ia menjadi obat atas semua kesedihan.

Seorang wanita yang santun dan manis saat tersenyum. Yang dengan senyumnya dunia tersejukkan, mawar menguncup malu, dan kumbang jantan mengepakan sayap-sayapnya. Seorang wanita santun yang aku pikir kesantunan seperti itu sudah punah di zaman sekarang. Seorang wanita yang menjadi obatku, dan membuatku seolah tak pernah merasa sedih sebelumnya.

Allah telah menjawab doaku. Masalahku belum selesai semua. Tapi dengannya semangatku kembali.

Siti Romlah

Wanita ini bernama Siti Romlah.

Sebuah nama yang terdengar udik di zaman sekarang. Saat wanita lain di luar sana bernama Sasha, Verna, atau Azizah, dia hanya bernama sederhana: Siti Romlah. Tapi kau tahu? Hatinya tak sesederhana namanya. Hatinya menyimpan berjuta warna yang membuat setiap orang mabuk karena indahnya. Dan dialah wanitaku.

Menyelami masa lalunya membuatku termenung. Masa lalu yang penuh lara. Sama sepertiku. Pikiranku berkecamuk, perasaan luluh lantak. Sempat terbesit pikiran, akan sangat berat untuk menerimanya. Tapi semua itu justru menjadi penyebab turunnya hidayah Allah yang menyadarkan dan mendewasakanku. Sebagaimana dengan kehadirannya telah menyingkirkan semua laraku, aku ingin keberadaanku juga menjadi penyebab kebahagiaan baginya. Akan terus kupeluk dia selalu hingga laranya hilang. Hingga cemberutnya berubah menjadi senyum yang mengembang lebar.

Menelaah kehidupannya, aku seperti melihat diriku dahulu. Diriku yang masih sangat lugu, sebelum aku tercemar dengan racun duniawi. Apa adanya, sangat sederhana. Ditambah pergaulannya yang terbatas, dandanan seadanya, bahasa Inggris yang hampir total tidak bisa, penakut, cengeng, dan selalu minder kepada orang lain. Ingin aku tertawa. Tapi justru itulah yang membuatku tersentuh. Yang membuatku ingin mengangkatnya dan menjadi orang pertama yang menunjukkan betapa indahnya dunia ini.

Dan hei, ada satu hal lain yang aku ingin dunia tahu. Dia adalah gadis keturunan Madura. Yap, Madura. Sebuah suku di Indonesia yang terkenal lantang dan tajam. Tapi dia berbeda. Dia sangat santun dan halus. Bahkan lebih halus dari wanita Jawa yang pernah aku kenal. Dan di saat yang sama dia tetap memiliki ciri khas wanita Madura pada umumnya. Orang bilang, wanita Madura itu, kalau membuat kopi, yang berputar itu bukan sendoknya, tapi cangkirnya.

Yah, terserah. Yang pasti aku tahu, dia pun begitu... =D

Ini yang membuatnya begitu spesial.

Cerita kami baru satu bulan berjalan. Tapi sudah banyak kenangan tercipa. Kadang tertawa, sekali-kali marah. Kadang cemburu, tapi banyak mesranya. Senyum manisnya, tingkah manjanya, suara lucunya, sopan santunnya, tembem pipinya, semua masih tersimpan rapi di memori. Aku hanya berdoa, semoga Allah memberkahi hubungan ini dan menjadikan masing-masing dari kami sebagai peyebab kebaikan bagi satu sama lain. Aku tak berharap lebih, karena sekali lagi, biar Allah yang menentukan apa yang terbaik. Karena Dialah yang Maha Mengetahui.

Karena tetap, walau tidak aku tuliskan di sini, tapi Allah mengetahui keinginan hamba-hambanya, baik yang diungkapkan ataupun yang disembunyikan.

 

Yang memiliki Siti Romlah,
Rhana Rhadhiyant