Angsa-angsa yang berbalik itu langsung merespon. Sambil membuka sayap mengejarku dan menyerang dengan paruhnya. Aku disosor... Berkali-kali... Waaaaa...

Clurit. Yap, inilah senjata khas masyarakat Jawa Timur. Di masa lampau, keberadaan senjata ini hampir tidak pernah lepas dari kehidupan sehar-hari, setelah keris tentunya.

Anyway, assalamu'alaikum.

So, aku ingin bercerita sedikit tentang clurit di Rhanawangsa. Ada hal-hal nyeleneh yang berhubungan dengan benda yang satu ini.

Jadi ayah punya satu clurit besar yang entah disimpan di mana. Sedangkan aku sendiri punya sebilah clurit kecil yang dibelikan ayah saat berjalan-jalan ke pulau Madura dulu. Usia berapa aku dibelikan? Lupa. Tapi kira-kira pas aku masih duduk di bangku TK. Yeah...

Clurit ini sebenarnya tidak tajam. Malah lebih mirip aksesoris atau kenang-kenangan ketimbang senjata. Tapi tetap saja kalau ditancapkan ke kepala orang ya darahnya mancur... =D Mungkin motif ayah dulu membelikan aku clurit untuk mengajariku agar menjadi berani. Haha...

Clurit
Ini dia cluritnya... Kecil dan ada rumbai-rubainya. Imut-imut, kan... =D

Nah, setelah adanya clurit itulah cerita ini dimulai.

My Story

Saat TK aku bersekolah di TK Raden Fatah. Untuk pergi ke sana, aku harus melewati Kantor NU (sekarang sudah bubar). Nah, di kantor itu ada sekumpulan angsa yang tinggal. Yah namanya makhluk hidup ya, mestinya berkembang biak. Dan karena sudah punya anak yang kecil-kecil, induk-induk angsa jadi protective terhadap orang-orang asing. Terutama angsa jantan yang paruhnya berubah merah menyala. Ada yang asing yang mendekat sedikit akan langsung disosor...

Bagaimanapun aku harus lewat di depan kantor itu. Parahnya, sekumpulan angsa itu, dengan beberapa pejantan berparuh merah, seringkali berkeliaran justru di pinggir jalan.

Aku selalu takut kalau lewat di daerah itu.

Rasanya kalau berangkat atau pulang sekolah, saat hendak mendekati area di mana para angsa berkumpul, perasaan selalu berdebar-debar. Dan kalau sudah berhasil melewati dengan selamat, fiuh, lega banget jadinya. Lha gimana lagi, orang dewasa saja kalau lewat banyak yang disosor. Tapi karena orang dewasa, ya bisa melawan balik. Lhak aku? Cuma anak TK yang baru belajar menulis. Ya jadi sasaran empuk...

Suatu ketika di hari yang panas, aku pulang sekolah. Seperti biasa, aku melewati area angsa itu. Dan celakanya, gerombolannya sedang banyak-banyaknya. Ada juga para penjantan berparuh merah yang kalau jalan kepalanya mendongak. Sambil berkoar-koar, "Ngaakkk Ngaakkk Ngaakkk" matanya mengawasi sekitar. Mungkin bisa dibilang badannya lebih tinggi angsa itu daripada aku.

Aku tak bisa lewat. Ketakutan setengah mati.

Tapi terus gimana? Masak ndak pulang?

Hari kian panas. Aku hanya bisa berdiri sambil menunggu mereka lewat. Angsa-angsa itu tampaknya sudah tahu kehadiranku. Dikiranya aku ini berniat jahat. Padahal, sedang ketakutan.

Lama... Lama... Angsanya tetap di situ...
Aku ingin nangis... Tidak bisa pulang...

Akhirnya aku nekat. Bagaimanapun aku harus lewat.

Aku memasang strategi. Ada kalanya angsa-angsa itu berbalik ke arah dalam halaman kantor. Pada saat itu aku bisa berlari menerabas dan pulang ke rumah.

Aku menunggu... menunggu... menunggu...
Hingga suatu ketika, aku lihat sedikit celah.

Tanpa membuang kesempatan aku langsung berlari, sambil memberanikan diri di tengah hati yang ketakuan setengah mati... Berlari... Berlari... Nekaaattt!!!

Celaka! Angsa-angsa itu berbalik lagi! Ga ngerti wes, pokoknya aku lari!!!

Angsa-angsa yang berbalik itu langsung merespon. Sambil membuka sayap mengejarku dan menyerang dengan paruhnya. Aku disosor... Berkali-kali... Waaaaa...

Aku jadi bulan-bulanan angsa-angsa sial itu. Karena takut, aku berlari sambil menangis.
Sampai di rumah, orang-orang menanyaiku, "Ada apa?"
Aku menjawab, "Disosor angsa..."
Dan tawa mereka malah meledak...

Keesokan harinya, orang-orang rumah membujukku agar membawa clurit. Biar kalau pas nyosor, sabet saja lehernya. Aku ga mau karena pikirku, kok jadi aku yang lebih serem sekarang ketimbang angsanya? Tapi mereka terus membujukku sambil berkata, "Daripada itumu nanti disosor hayo, gimana?" Nah, yang terakhir ini membuat aku parno sendiri. Akhirnya karena ga mau ituku jadi santapan angsa, aku berangkat sekolah dengan membawa clurit di dalam tas.

Itu TK loh! Berangkat sekolah membawa clurit! =D

Aku ga ingat lagi apa yang terjadi setelah itu. Apakah aku benar-benar berkelahi dengan angsa, ataukah angsanya sudah dipindahkan semenjak kejadian itu. Jujur ingatanku samar-samar. Tapi orang-orang rumah kalau bercerita, mereka bilang kalau aku menyabetkan clurit ke arah angsa-angsa itu. Yang pasti sekeluarga tahu bahwa aku pernah sekolah dengan membawa senjata tajam.

Gara-gara angsa...

His Story

Kalau cerita yang satu ini dari Irin. Dia sekarang duduk di bangku kelas 6 SD.

Beberapa bulan terakhir aku sudah tinggal di rumah kost di Surabaya, jadi tidak tahu lagi kabar dari orang-orang rumah. Seminggu lalu aku pulang dan saat Itulah Irin bercerita.

"Mas mas, di sekolahku ada anak malak-malak. Anak SMP. Temanku ada yang dipalak."
Tanggapanku, "Lha terus?"
"Terus aku diincar sama mereka. Anak-anak itu menunjuk-nunjuk ke arahku sambil bilang, 'itu loh anaknya, itu loh.' Lah, aku kan takut sendiri." Ujarnya.
"Terus...?"
"Ya aku besoknya sekolah bawa clurit. Lha takut e. Be'e dicegat hayo..." jawabnya polos...

Dan aku terperangah. "Kamu SD sekolah bawa celurit???"
Jawabnya, "Lha aku ketakuan e. Salah'e..."
Dia melanjutkan, "Tapi akhirnya aku ga ketemu sama anak-anak SMP itu. Untungnya..."

Aku hanya diam.

Niru siapa anak ini. Sekolah bawa clurit.
Ya niru masnya lah yang pernah sekolah bawa clurit. Siapa lagi. Clurit beserta kebiasaannya sekarang menurun ke adiknya...

Aku jadi kepikiran berita di televisi yang menceritakan tawuran pelajar dengan membawa senjata tajam. Tapi ini adikku kan membela drii yah. Tapi tetap saja, tindakannya terlalu gegabah.

Aku ga marah. Sambil dia makan aku menasehatinya, "Jangan bawa-bawa senjatan tajam lagi. Bahaya kalau ketahuan polisi."

Hari ini tepat seminggu setelah ceritanya, aku sudah melihat clurit itu tergeletak di kamar.

That's all. I can't tell anymore...

So, inilah cerita Rhanawangsa kecil dengan clurit...
Yah, begitulah... =D

Assalamu'alaikum.

 

--
Yang TK sudah bawa clurit,
Rhana Rhadhiyant