Kesetiaan itu harus disadari, dipelajari, dimengerti, diputuskan untuk melakukannya, dan dilatih untuk terbiasa dengannya.

Ada satu sifat di Rhanawangsa, yang mana ini adalah warisan dari ayah, yang seolah menjadi sifat seluruh keluarga. Yang perlu digarisbawahi adalah kata ‘seolah’ yang berarti tidak semua anggota keluarga memiliki sifat ini. Sifat itu adalah: sensitif terhadap kesetiaan.

Di Rhanawangsa, masalah mengenai kesetiaan berkali-kali terjadi. Ini adalah isu krusial di keluarga. Kami sadar bahwa masalah ini harus dihentikan sekarang sebelum menebar masalah yang lebih parah. Sejauh ini akibat yang ditimbulkan karena masalah kesetiaan sangat menyakitkan. Oleh karena itu di sini aku ingin bercerita tentang kesetiaan.

Apa sih kesetiaan? Aku tidak ingin mengutip dari referensi mana pun, toh aku tidak peduli dengan itu semua. Tapi aku ingin memakai definisiku sendiri akan kesetiaan.

Kesetiaan adalah, kemampuan seseorang untuk menjaga hati orang lain yang telah dipercayakan padanya.

Mari kita bedah satu persatu.

  1. Kesetiaan adalah KEMAMPUAN SESEORANG.

    Kesetiaan itu adalah salah satu bentuk kemampuan, yang karenanya, dalam proses seseorang untuk memilikinya, tak ada ubahnya seperti proses memiliki kemampuan yang lain. Kesetiaan tidak berbeda dengan kemampuan berjalan dan berhitung. SAMA! Kesetiaan itu harus disadari, dipelajari, dimengerti, diputuskan untuk melakukannya, dan dilatih untuk terbiasa dengannya.

    Masalahnya adalah, orang-orang itu banyak yang menganggap kesetiaan itu hal remeh. Asal dirinya senang, dia bisa lupa dengan apa yang seharusnya dijaga. Orang-orang jarang yang menyadari bahwa kesetiaan itu adalah sebuah kesadaran, keputusan, dan perlu dilatih terus menerus. Makanya, kalau kata Lex dPraxis di sekolah cinta, kesetiaan itu SANGAT BERHARGA, dan orang setia itu LANGKA!

  2. Kesetiaan adalah UNTUK MENJAGA.

    Kesetiaan itu kemampuan. Kemampuan untuk apa? Untuk menjaga. Menjaga berarti tidak merusak, merawat seperti pertama diterima.

    Mejaga adalah naluri yang mestinya ada pada diri setiap orang. Dan orang yang tidak mampu menjaga, apalagi terhadap sesuatu yang berharga bagi dirinya, berarti dia menyalahi sifat alamiahnya sendiri. Pasti ada yang salah dengan kejiwaan orang itu.

  3. Kesetiaan adalah HATI ORANG LAIN YANG TELAH DIPERCAYAKAN PADANYA.

    Seseorang selalu berhubungan dengan orang lain. Nah, sadar tidak, bahwa yang namanya hubungan itu selalu merupakan proses menaruh hati?

    Saat kita nyaman dengan seseorang, entah itu dalam konteks orang tua - anak, senior - junior, guru - murid, teman, atau pasangan, sebenarnya kita menaruh hati pada orang itu. Dan jika orang itu merasakan hal yang sama, orang itu akan menaruh hati pada kita. Pada saat itulah hubungan tercipta.

    Kesetiaan adalah kemampuan untuk menjaga. Apa yang dijaga? Ya hati yang telah dititipkan pada kita itu tadi, itu yang dijaga. Kalau hati orang lain yang tidak dipercayakan padanya, ya itu tidak perlu dijaga.

    Seseorang yang lemah TIDAK akan merasa sakit hati berlebih disakiti oleh orang yang tidak dikenalnya. Tapi orang yang walaupun kuat AKAN jatuh mati jika disakiti oleh orang yang dipercayanya.

    Seseorang saat TIDAK menaruh hati pada seseorang, berarti ia tidak peduli dengan orang itu. Ia tidak memiliki pengakuan dan tidak pula mengharap pengakuan apapun dari orang itu. Dalam kasus ini, ia sudah siap atas apapun yang terjadi, baik atau buruknya. Jadi kalau suatu saat orang lain itu tadi berbuat baik padanya, rasanya ya biasa saja. Dan kalau berbuat buruk, ya rasanya biasa juga. Seperti angin lalu yang kalau lewat berlalu sudah. Tidak ada kesetiaan, tidak ada penghianatan. Ya namanya saja orang lain, mau salto atau kayang, emang gue pikirin...

    Tapi saat seseorang menaruh hati pada orang lain, berarti ia telah merasakan kenyamanan dan mengharapkan kenyamanan yang lebih dari orang itu. Nah, di sinilah perbedaannya. Jika seseorang menitipkan hati pada orang lain dan orang itu menerimanya, dan suatu saat orang yang telah diditipkan hati tadi berbuat buruk, berkebalikan dengan harapan orang yang telah menitipkan hati, maka rasanya akan LUAR BIASA mengerikan. Rasanya remuk sudah hati tadi, tercabik-cabik egonya, dan akan timbul pilu yang tiada berakhir.

    Misalnya, seorang kakak yang mestinya melindungi adik. Adik akan menganggap kakak sebagai orang yang bisa melindungi dirinya sehigga ia akan selalu berharap perlindungan dari kakaknya. Tapi jika kakaknya ternyata justru menyakiti adiknya, perasaan yang dirasakan si adik akan sangat menyakitkan, bahkan jauh lebih menyakitkan daripada jika yang menyakitinya adalah orang lain dengan kadar kejahatan yang sama. Karena dalam kasus kakak-adik, ada hati yang telah dititipkan yang tidak ada pada orang lain.

    Begitu juga dengan konteks pertemanan, pasangan, guru-murid, dan semuanya. Selama ada hati yang dititipkan, perasaan yang ditimbulkan akan berbeda. Dan kesetiaan adalah mengenai hati yang telah dititipkan itu tadi.

    Siapa kita menentukan perasaan orang lain pada kita. Dan siapa orang di seberang jalan itu menentukan perasaan kita padanya. Oleh karena itu poin ini sangat penting dalam kesetiaan.

Jadi, sensitif terhadap kesetiaan adalah sifat yang ada di Rhanawangsa. Di keluarga ini (walau tidak semua anggota keluarga), kami sangat tidak suka dengan orang yang tidak setia. Oke, semua orang tidak suka dengan orang yang tidak setia. Tapi orang lain paling-paling cukup melupakan orang yang telah tidak setia tadi. Tapi tidak di keluarga ini.

Di Rhanawangsa, orang yang telah melanggar arti kesetiaan berarti telah masuk ke dalam daftar hitam orang-orang yang tidak patut untuk dikenal. Ada satu emosi yang tidak akan hilang, yang bahkan tetap dibawa hingga mati. Walaupun orang itu telah meminta maaf beribu kali, tidak akan hilang.

Sudah banyak pihak yang masuk daftar hitam keluarga. Hubungan keluarga ini dengan mereka sekarang seperti hampir tidak pernah kenal. Ada juga bagiku secara pribadi. Di lingkungan tempat tinggal, sekolah, kampus, organisasi, kantor, semua ada. Sekali melanggar arti kesetiaan, langsung coret namanya dan masukkan ke dalam daftar hitam. Tidak ada kesempatan kedua bagi orang itu.

Mengerikan? Yap, mengerikan adalah salah satu wajah dari emosi.

Kami Rhanawangsa bukan orang-orang yang pendendam. Tapi kami hanya ingin melindungi diri, kemudian menjalin hubungan hati-ke-hati hanya dengan pihak-pihak yang mengerti akan pentingnya hati itu sendiri.

 

Yang sensitif terhadap kesetiaan,
Rhana Rhadhiyant