Mimpi adalah bunga tidur. Kadang kala ia hanya sekedar pikiran yang mengganjal di alam bawah sadar, kadang ia adalah godaan iblis. Dan terkadang ia adalah pesan dari Allah swt.

Prolog

Mimpi adalah bunga tidur. Kadang kala ia hanya sekedar pikiran yang mengganjal di alam bawah sadar, kadang ia adalah godaan iblis. Dan terkadang ia adalah pesan dari Allah swt.

Ceritaku kali ini adalah tentang serangkai mimpi yang melibatkan seorang temanku. Bukan teman yang benar-benar teman, sih. Hanya sekedar seseorang yang kebetulan 'berteman' karena sempat satu kelas di kampus. Aku di sini, dan dia di pojok sono... Dan, mimpiku kali ini unik. Ga ada motif apa-apa kenapa aku ceritain di sini, cuma ingin bercerita saja tentang apa yang aku alami...

Oke. Mari kita mulai.

Pertama

Pada suatu dini hari. Aku terbangun dari tidur pada dini hari yang dingin. Udaranya merasuk tulang dan rasa kantuk masih memberatkan kepala. Ingin rasanya melanjutkan tidur dengan nyenyak. Tapi ini sudah waktunya sholat shubuh. Hoooh geez, beratnyaaa... Tapi kemudian aku ingat Allah sudah berjanji, yang mau berjuang sholat di malam atau pagi yang sangat dingin, nanti di padang Mahsyar saat semua orang kepanasan ia akan tetap merasa dingin.

Maka cepat-cepat aku sholat. Menembus udara dingin, menyambar air wudlu, dan sholat. Setelah selesai, karena masih dingin aku langsung masuk kembali ke dalam selimut buluku. Hah, hangat dan nyaman rasanya selimut ini. Sebuah selimut bulu tebal impor dari Korea. Ibu yang membelikannya. Karena itu kehangatan selimut ini adalah manifestasi kehangatan pelukan ibu. Sambil berbaring aku melamunkan diriku di masa depan.

***

Aku beranjak berjalan ke depan rumah. Suasana di luar sepertinya bagus. Aku duduk di kursi teras. Dan benar, pagi ini sedang bagus-bagusnya. Sinar mentari putih kekuningan bersinar cerah dan hangat. Burung-burung berkicau bersahutan dengan sesamanya. Udaranya segar. Sejenak aku duduk sambil menikmati udara segar.

Kemudian terdengar derum kendaraan. "Brum brum brum..." Aku menoleh dan kulihat berbondong-bondong banyak motor datang. "Oh, ada tamu rupanya," gumamku.

Tapi tunggu, wajah para tamu itu tidak asing. Itu kan teman-temanku. Sejenak lagi kuperhatikan, loh itu kan...
Nasir? Ariel? Juan? Loh loh loh, itu kan...? Dan kemudian berbondong-bondong datang teman-teman kampus yang lain. Ada yang berjalan, mengendarai motor, dan juga mengendarai mobil. Mereka datang seolah akan ada pesta besar di rumahku. Dalam keadaan terpaku aku berpikir, memangnya ada pesta apa? Aku tak merasa telah mengadakan apapun hari ini.

Anehnya sebagian besar yang datang bukanlah teman yang benar-benar akrab denganku, kecuali Jumaters, itu pun hanya sebagian.

Mereka hanya tersenyum dan dan tanpa basa-basi langsung masuk ke dalam rumah. Aku langsung tersadar dari keterpakuanku dan kupersilakan mereka, “Eh, iya teman-teman, silakan masuk.” Batinku, ini mereka ini sejak kapan tahu rumahku? Wong akrab saja tidak, kok...

Dan di akhir rombongan itu, aku lihat beberapa teman lagi. Para wanita. Dan selayaknya wanita, kalau berjalan selalu bergerombol. Ada si itu dan si dia yang aku kenal wajahnya tapi tak tahu namanya. Dan antara mereka juga ada... KFS? Oh, ada dia juga rupanya. Dia memakai setelan pakaian yang pas. Kerudung kuning, baju cerah, dan celana satin berwarna merah maroon. Sambil tersenyum ia mengikuti teman-teman masuk ke dalam rumah.

Di dalam, ternyata teman-teman sudah berada di meja makan. Ada Juan dan Haris yang sudah duduk dan tanpa sungkan menyantap makanan. Dan beberapa teman lagi yang mengelilingi mereka sambil berdiri karena tak dapat tempat duduk. Gumamku dalam hati, “Walah rek, kalau mau ke sini ya bilang dulu biar aku bisa mempersiapkan tempat dan makanannya.”

Di tengah kebingungan itu sekali lagi aku lihat KFS di antara teman-teman yang berdiri. Kami bertatap muka, kemudian ia tersenyum manis dan tertunduk. Aku baru menyadari KFS terlihat paling berbeda. Ia terlihat yang paling cerah di antara yang lain. Teman-teman yang lain? Ah, tidak penting. Kami bertatap muka beberapa kali. Aku benar-benar heran, apa maksud kedatangannya kemari. Aku harus mengajaknya bicara.

Baru saja melangkah dan berucap beberapa kata, ia tersenyum kemudian lari ke ruang keluarga. Hello... Aku mau ngajak ngobrol dan kamu malah lari...? Aku pun menyusulnya. “Hei, tunggu...”

***

Aku terbangun dan merasakan sedikit kaku di punggungku. Ah, ternyata itu hanya mimpi. Tapi mimpi barusan itu, benar-benar seolah terjadi di rumah ini. Itu bukan mimpi yang suram dengan alur yang meloncat-loncat. Benar-benar jelas. Memang di keluarga ini, kami sering mengalami mimpi yang tidak biasa. Dalam kantuk aku mengingat semuanya. Juga KFS. Kenapa dia? Aku berpikir, apa maksud kedatangannya tadi.

Ah, itu cuma mimpi. Lupakan...

Sinar mentari menembus jendela kamar. Di luar sudah pagi. Aku mencari hp dan sambil bermalas-malasan di tempat tidur membuka halaman facebook.

Loading, loading, loading... Oke, ini terbuka.

Di bagian notifkasi aku melihat tiga teman yang berulang tahun hari ini. Ada si dia, si itu, dan si...
KFS...?

What the helll??!!!! Hari ini hari ulang tahunnya KFS...???!!!!

Aku melotot seraya tak percaya. Apakah aku masih bermimpi???!!!
Ternyata tidak...

Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang aku lihat. Rasa kantuk yang tadi masih hinggap seketika sirna.

Aku tadi bermimpi KFS datang ke rumah, tersenyum ke arahku, dan ternyata sekarang hari ulang tahunnya. Sungguh, sebelumnya aku tak ingat tanggal ulang tahunnya, bahkan aku tak ingat tanggal berapa hari ini. Aku benar-benar tak habis pikir.

Mimpi yang baru saja itu mimpi macam apa...?

Mungkin maksud kedatangannya di mimpiku tadi untuk memberitahuku, “Hei hari ini hari ulang tahunku...”
Tapi ya, ngapain juga, sih...?

Aku langsung membuka akun facebook-nya dan mengecek tanggal lahirnya. 16 April. Langsung kulihat kalender. Hari ini adalah tanggal 16 April 2014.

Sekali lagi aku terpana. Diam tak mampu berkata-kata.
Apa-apaan ini...?

Aku langsung memberi tahu temanku Ian akan hal ini. Lah, dianya malah meledek dengan gayanya yang khas.

Beberapa hari setelah itu aku berkumpul dengan teman-teman, aku kembali bercerita tentang mimpiku. Respon mereka? Sederhana. Mereka langsung mengambil hpku dan dengan usil mengirimkan sms selamat ulang tahun ke KFS. Saat sore KFS membalas smsku dengan bertanya, “Maaf, ini siapa?” Ya terang saja dia bertanya seperti itu, wong kami memang tidak pernah bergaul sebelumnya.

So, buat KFS kalau kamu membaca artikel ini, maaf ya buat smsnya dulu. Itu teman-teman kok yang usil pakai hpku. =)

Aku curiga jangan-jangan tanggal lahirnya di facebook adalah tanggal lahir palsu. Yah, karena aku sendiri tidak memasang tanggal lahir asli di dunia maya. Barangkali dia juga begitu. Jadi beberapa hari kemudian aku buka kembali facebook untuk sekedar mengecek kebenaran. Dan ternyata benar, KFS mengunggah foto perayaan kecil hari ulang tahun di kantornya dengan foto kue-kue kecil yang lucu.

Hari itu benar-benar hari ulang tahunnya...

Kedua

Minggu ini adalah minggu pertama di bulan Ramadhan. Beberapa hari kemarin bos besar dari Australia datang ke kantor, mewanti-wanti kami untuk giat bekerja dan menyelesaikan tugas dengan cepat. Dia bilang, “Faster you work, faster project done, and faster we get money. We get more money, I can give you more bonus.” Haha, dasar orang barat, pikirannya uang terus... Tapi terlepas dari itu aku jadi termotivasi untuk bekerja lebih giat. Sebagai karyawan baru aku ga mau melakukan kesalahan.

Saat dini hari aku makan sahur bersama keluarga. Setelah semua rampung dan sholat shubuh tuntas dilaksanakan, iseng-iseng aku kembali tidur sekedar setengah atau satu jam. Pikirku, pekerjaanku ini sangat menguras otak, kalau kurang tidur akan tidak baik jadinya. Toh tidur sebentar tidak akan membuatku telat ke kantor juga.

***

Malam hari aku dan Jumaters berkumpul di rumah Dhona. Ada Ian, Ariel, Fami, dan Fatur. Ada sebuah acara malam itu, semacam kumpul bersama di bulan Ramadhan.

Di sana kami makan dan berbincang. Sebentar-sebentar diselingin tawa bersama. Acara itu lebih mirip reuini teman-teman kampus yang dulu akrab. Pokoknya itu adalah sebuah acara yang asik dan seru.

Akhirnya karena malam sudah mulai larut kami mengakhiri acara itu. Satu persatu dari kami membereskan diri dan bersiap pulang. Saat semua bergegas menuju garasi dan aku mulai menaiki motor, baru kusadari KFS ada di antara kami. Kulihat dia keluar dari rumah dan hendak pulang juga.

Aku memberinya kode untuk menawarinya tumpangan. Dia melihat dan mehampiriku. Well, dia ga pake ngomong apa-apa sih sebenarnya, tapi keliatan dia menerima. Lantas dia naik motorku.

Bersama teman-teman lain kami beriringan meninggalkan rumah Dhona. Dan ngomong-ngomng aku suka motorku. Dirasa-rasa enak bener ini motor. Bertipe naked, bertangki besar, berwarna putih, dan memiliki half fairing di samping kanan-kirinya.

Di tengah jalan, sebentar aku menoleh ke belakang sekedar melihat KFS. Kulihat kepalanya yang dibalut kerudung merah jambu. Yap, dia benar ada di belakangku. Aku menoleh lagi ke depan dan melaju membelah jalanan...

***

Aku membuka mata. Oh Tuhan, lagi-lagi bermimpi KFS. Aku mengucek-ngucek mata. Tak habis pikir dengan apa yang baru saja aku lihat. Memimpikan seorang wanita di bulan Ramadhan? Hah, yang benar saja...

Aku bangun. Dalam kantuk, sejenak diam merenung. Sudah dua kali aku memimpikan seseorang yang, dia itu siapa juga sih sehingga aku harus memimpikannya? Dan ini bulan Ramadhan loh...

Sepertinya mimpi yang kedua ini sudah kelewatan. Aku tidak akan peduli dengan mimpi kali ini. Ada beberapa hal yang menurutku sudah sangat aneh.

Pertama, aku dan KFS sejatinya tidak pernah bergaul, bahkan sekedar berucap “Hai” saja tidak pernah.
Kedua, KFS ada di Jakarta sana dan aku di Surabaya.
Ketiga, aku mengendarai motor bertipe naked, padahal nyatanya motorku adalah motor bebek 110cc yang kecil. Itu sudah benar-benar mimpi.

Masih menganggap mimpi itu serius? Ga...
Tapi jujur, masih kepikiran sedikit, iya...

Beberapa hari setelah itu aku berkumpul dengan teman-teman untuk sholat terawih dan tadarus bersama. Teman-teman yang hampir sama dengan yang aku temui di mimpi yang kedua. Tapi kali ini berkumpulnya asli, bukan mimpi.

Setelah itu kami berbincang di sebuah warung kopi. Dalam perbincangan itu aku bercerita tentang mimpiku yang kedua. "Hei rek, aku mimpi lagi tentang KFS... Bla bla bla..." begitu aku mulai cerita. Tapi yah, itu bukan sebuah cerita yang penting sih sebenarnya, sehingga kami lebih menanggapinya sebagai candaan.

Dhona yang di mimpiku menjadi tuan rumah tiba-tiba menimpali dan bertanya, “Kamu mimpi itu saat tidur setelah shubuh, kan?” Aku jawab, “Iya.” Ia berujar, “Nah itu, kalau tidur setelah shubuh memang akan bermimpi yang aneh-aneh. Makanya kita tidak boleh tidur setelah shubuh.”

"Jleb!" Kata-katanya itu langsung menohok. Aku diam. Bener banget. Mungkin itu semua hanyalah sebuah mimpi karena aku tidur setelah shubuh. Wahahaa...

Saat perjalanan pulang aku berkata dalam hati, “Ada hal yang lebih penting yang harus aku urusi. Yang telah aku lihat tak lebih dari sekedar bunga tidur. Itu hanyalah mimpi...”

***

Tepat hari Minggu kemarin Ibu membelikanku sebuah motor baru sebagai hadiah ulang tahun. Sebelumnya motor bebek yang biasa aku pakai telah berpindah tangan dan sekarang entah ada di mana. Motor baru itu didatangkan ke rumah dan langsung dibayar tunai. Hari itu, sebuah motor baru menjadi milikku.

Nah, yang unik adalah, motor baru ini berjenis naked, bertangki besar, berwarna putih, dan memiliki half fairing di sampingnya. Mirip seperti yang ada di mimpiku. Nah loh... Siapa yang sangka coba kalau aku akan punya motor ini? Tapi akhirnya kejadian...

Aneh. Setengah mimpiku telah terjadi. Aku jadi tersenyum dan geleng-geleng sendiri kalau ingat mimpi itu. Gila, mimpi macam apa sih...

Ian adalah temanku yang dengannya aku selalu berbagi masalah kampus. Dan lagi-lagi, tentang motor baru ini aku berbagi cerita dengannya. Yah, responnya malah bernada meledek. Sialan...

Epilog

Jadi itulah mimpi yang pernah aku alami. Tapi aku berlepas dari mimpi yang telah aku lihat. Itu hanya mimpi. Terserah ia seperti apa.

Aku punya kehidupan sendiri terlepas dari mimpi yang aku alami. Dan orang lain pun punya kehidupan sendiri terlepas dari mimpi orang lain terhadap mereka. Aku hanya ingin, dalam kesempatan ini, berbagi mencaritakan suatu hal untuk yang aku alami. Itu saja.

Memang bagi Rhanawangsa, mimpi adalah salah satu kekuatan kami yang bisa jadi mengandung arti. Tapi khusus untuk dua mimpi ini, aku tidak dan tidak ingin mengambil kesimpulan apapun. Alih-alih menganggapnya serius, malah aku lebih suka tertawa karenanya.

Mimpi adalah bunga tidur. Kadang kala ia hanya sekedar pikiran yang mengganjal di alam bawah sadar, kadang ia adalah godaan iblis. Dan terkadang ia adalah pesan dari Allah swt.

Yeah, I dont care...

***

Note: KFS adalah nama temanku saat menempuh pendidikan di S1 Manajemen Unair, Surabaya. Kami adalah teman satu kelas saat semester 1 yang kami sebut G-Generation. Namun karena berbeda kelompok sosial dan kesibukan kampus yang terus menerus membuat kami tidak pernah bergaul. Namanya sengaja aku samarkan untuk menjaga privasi.

 

Yang telah bermimpi,
Rhana Rhadhiyant