Jadi, karena setiap bangsa memiliki kekuatan, dan kekuatannya berasal dari tiap keluarga, maka setiap keluarga memiliki kekuatannya sendiri-sendiri. Begitu juga dengan Rhanawangsa.

Assalamu'alaikum.

Dirgahayu Indonesiaku!

Yap. Artikel kali ini saya tulis bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia. Aura kemerdekaan riuh terdngar. Semoga Indonesia esok bertambah anggun langkahnya dan harum namanya.

Ngomong-ngomong soal bangsa, suatu bangsa yang besar memiliki kekuatan khusus yang tidak dimiliki bangsa lain. Nah, kekuatan itulah yang kemudian membesarkan bangsa itu. Dan kalau ditelisik lebih dalam, kekuatan itu tersimpan pada tiap-tiap keluarga yang membentuk bangsa itu sendiri. Jika suatu bangsa didiami oleh keluarga-keluarga hebat dengan spesialisasinya masing-masing, bangsa itu pun akan menjadi bangsa yang hebat pula dengan karakter yang merupakan perpaduan seluruh spesialisasi keluarga yang ada di dalam bangsa itu.

Jadi, karena setiap bangsa memiliki kekuatan, dan kekuatannya berasal dari tiap keluarga, maka setiap keluarga memiliki kekuatannya sendiri-sendiri.

Begitu juga dengan Rhanawangsa.

Lalu apa yang dimiliki Rhanawangsa? Kami memiliki kekuatan, yatiu:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

Eh, jangan tertawa, loh! Ketuhanan itu PENTING!

Yah, seperti sila pertama pada Pancasila. Tentu karena kami orang Indonesia sejati. Tapi benar loh, kami berasal dari keluarga yang mengerti agama. Kami paham siapa Tuhan. Dia tempat kita semua berasal dan kepada-Nya semua akan kembali. Tentang Tuhan, kami tak pernah main-main.

2. Akal Sehat

Perbedaan manusia dengan makhluk lain adalah: akal. Ayah pernah berkata, jika beruang sejatanya cakar, dan elang senjatanya paruh, maka manusia senjatanya akal. Dan semakin tinggi tingkat akalnya, semakin ia manusia. Itu yang kami pegang. Di Rhanawangsa, yang tidak masuk akal, ditolak. Kami sangat menyukai sains. Rasanya tidak enak kalau sudah penasaran kemudian tidak bisa mendapatkan penjelasan.

Di sekolah pun begitu. Masing-masing anggota keluarga kami adalah pemegang rekor prestasi dalam pelajaran matematika di sekolah. Yah jelas saja, ayah sangat keras kalau mendidik soal pelajaran yang satu itu.

Pada dasarnya kami bukan keluarga yang meriah atau ekspresif. Kami keluarga yang tertutup dan pendiam. Introvert. Tapi dalam diam ada hal yang kami pikirkan dan ingin kupas. Dan akhirnya, mengetahui hal yang mungkin orang lain tidak ketahui, entah itu masalah agama, sains, dinamika sosial, dan lain-lain.

That's it. Itulah kami.

3. Harga Diri

Sepertii yang saya ungkapkan di atas, kami bukan keluarga yang meriah. Kami keluarga yang pendiam, menjaga nama baik dan harga diri. Tenang. Malah cenderung jaim. Bagi kami, harga diri adalah status kami di tengah-tengah kehidupan sosial. Dan itu adalah hal yang kami bangun dan tidak ada siapapun yang boleh mengusiknya.

Kami tidak suka berbuat onar, di saat yang sama, kami juga tidak mau diganggu orang lain. Kalau ada yang berbuat baik, kami akan sangat berterima kasih. Sebaliknya kalau ada yang mengganggu DENGAN SENGAJA, wah, bisa panjang urusannya. Mungkin sampai mati pun kesalahan yang dilakukan dengan sengaja itu takkan bisa terlupakan.

Ayah bercerita, sifat seperti itu adalah warisan dari leluhur yang memang sudah seperti itu karakternya. Seluruh leluhur dari pihak ayah dan ibu adalah orang-orang terhormat. Bukan bangsawan, tapi kami terhormat. Dihormati oleh kawan dan dihargai oleh lawan.

Terkadang sifat ini mempunyai sisi negatif. Bagi sebagian orang yang tidak mengerti siapa kami atau baru kenal, mereka akan mengira kami sombong. Well, terserah saja. Bagi yang pernah merasakannya, ya kami mohon maaf. Tapi percayalah, kami tidak pernah bermaksud untuk itu. Keagungan itu baju Allah dan kesombongan itu selendang Allah, maka kami pantang untuk memakai salah satu atau keduanya. Kami hanya sedang ingin diam atau sedang tidak kenal. Itu saja. Toh jika sudah kenal dan kami ingin berinteraksi lebih dalam, semua akan tahu bahwa hati kami tidak sekeras dan sedingin penampilan luarnya.

Tapi untungnya kami memiliki paradigma tentang harga diri yang berbeda dibanding orang lain. Jika harga diri bagi orang lain adalah penghargaan orang lain kepada dirinya, maka kami menganggap harga diri adalah penghargaan KITA SENDIRI kepada DIRI KITA SENDIRI. Dengan paradigma itu maka cara kami untuk mendapatkan harga diri bukan dengan pamer dan minta dipuji orang lain, atau memaksa orang lain untuk menghargainya, atau marah jika direndahkan. Tenang saja. Kami bukan keluarga yang gila pujian. Tapi kami akan benar-benar berusaha untuk meninggikan kualitas diri, hingga saat kami tinggi orang lain pun akan sadar siapa kami sebenarnya dengan sendirinya. Jika ada yang memuji, itu hanya bonus. Jika ada yang merendahkan, kami akan dengan sadar mengoreksi diri.

4. Doa Orang Tua

Tidak ada satupun dari kami yang tidak taat pada orang tua. Walau di luar kami keras, mungkin. Yah, itu biasa. Namanya juga darah muda. Tapi ada doa untuk pengampunan dosa mereka berdua yang terselip di setiap doa yang kami panjatkan. Kami percaya, takdir ada di tangan Allah. Tapi ACC-nya itu ada di orang tua. Kalau orang tua tidak ridlo, ya tidak akan jadi.

Ayah memiliki banyak orang tua. Ya tentu, ayah adalah anak yang ditinggal mati nenek sejak bayi dan kakek merasa tidak mampu membesarkannya sendiri. Oleh karena itu semenjak kecil ayah diasuh oleh banyak keluarga. Otomatis ayah memiliki banyak orang tua selain orang tua kandungnya sendiri.

Nah, kepada semua orang tuanya itu ayah selalu tunduk. Padahal ayah itu preman loh di lingkungan kami. Tapi saat sudah berurusan dengan nenek (entah itu nenek angkat, atau nenek kandung yang sudah meninggal, nenek tiri / istri baru kakek) ia selalu gemetar hebat. Suaranya yang biasa koar-koar misuh kanan-kiri langsung luluh seperti balita. Sumpah.

Itu masih dari ayah. Ada lagi dari ibu. Tapi cukup untuk kali ini cerita tentang ayah saja. Dan semoga sifat itu akan menurun juga kepada kami anak-anaknya agar dapat berbakti pada orang tua.

Ayah pernah berkata, "Jangan pernah berani dengan ibumu. Seandainya ibumu marah kemudian berucap, 'kembalikan air susuku yang telah kau minum dulu', lantas bagaimana caramu mengembalikan dan akan jadi apa kamu?" Kami semua yang mendengar itu hanya terdiam.

5. Mimpi

Nabi pernah bersabda, bahwa nanti di akhir zaman, mimpi seorang mukmin adalah 1/40 kenabian. Maksudnya mimpi seorang mukmin akan membawa makna yang tidak main-main.

Kami benar-benar percaya dengan hal itu.

Bagi kami, mimpi bukan hal yang main-main. Oke, bisa jadi itu adalah bunga tidur. Atau godaan iblis. Atau pesan dari alam bawah sadar. Hah, whatever. Tapi bisa jadi sebuah mimpi adalah pesan dari Allah dengan suatu tujuan tertentu.

Sebagian mimpi bagi kami adalah suatu pertanda dan peringatan. Kami serign melakukan introspeksi diri dari mimpi yang kami terima. Kalau sudah mendapat mimpi yang ada tanda-tandanya itu seperti mendapat teguran yang mengetarkan sendi-sendi tulang. Coba bayangkan kalau mendapat teguran dari bos atau dosen, rasanya sangat tidak nyaman. Lah ini teguran dari Tuhan Semesta Alam. Gimana rasanya? =O

Misalnya saja saat saat menjelang kehamilan semua anaknya, ibu selalu mendapat mimpi. Dari situ ibu sudah tahu jenis kelamin bayinya apa dan karakternya nanti bagaimana. Ya memang benar, sih. Selalu saja, setelah ibu mendapat mimpi tentang kehamilan itu, bebarapa hari kemudian ibu benar-benar hamil. Saat lahir, jenis kelaminnya pun pas seperti yang ibu prediksikan. Dan setelah dewasa, memang benar karakter anaknya seperti yang ibu prediksikan juga.

Tapi itu hanya secuil dari mimpi yang pernah dialami keluarga kami. Kami semua pernah mendapat mimpi spesial seperti itu. Tapi mimpi apa saja yang pernah kami alami tidak akan saya publikasikan di sini. Insya Allah akan menjadi artikel lain di waktu yang lain. Amin. Dan untuk saat ini, cukup sampai di sini dulu.

Dan itulah kekuatan Rhanawangsa.

Terima kasih. Dirgahayu Indonesiaku!

 

Yang suka bermimpi aneh,
Rhana Rhadhiyant