Berbodong-bondong ingin mencapai kampung halaman, berdesak-desakan di jalan, menantang resiko maut. Dan tak peduli berapa banyak jumlah korban jiwa tiap tahunnya, tetap saja jumlah pemudik selalu tinggi. Yang salah bukan resiko mudiknya. Tapi yang salah itu manajemen resikonya.

Assalamu'alaikum.

Hari ini saya ingin menulis sesuatu yang sudah terngiang di pikiran beberapa hari ini. Atau mungkin, beberapa tahun ini. Itu adalah tentang mudik. Sebuah kebiasaan bangsa kita setiap tahun.

Pemikiran ini dimulai dari bebarapa tahun yang lalu. Kira-kira begini ceritanya.

***

Saat itu saya berada dalam suasana yang sama dengan suasana saat ini, Idul Fitri. Ada banyak media yang menyiarkan berita arus mudik. Betapa banyak orang yang berbondong-bondong menyesaki jalanan ingin pulang ke kampung halaman. Mereka seolah belomba-lomba ingin mencapai tujuannya. Jalanan yang semula lancar tiba-tiba menjadi sesak. Saya membayangkan mereka saling bersaing, saling mendahului, saling mengambil jalan orang lain. Tak jarang terjadi kecelakaan hingga merenggut korban jiwa.

Toh begitu tiap tahun orang-orang tetap tidak pernah mundur dari yang namanya mudik. Tahun ini pemudik mati satu orang, tahun depan pemudik bertambah seribu orang. Seolah tak peduli dengan resiko, mudik tetap terjadi. Tak peduli apapun resikonya, pemudik terus maju mencapai kampung halamannya.

Melihat kenyataan seperti ini, saya jadi teringat akan perjalanan, maaf, sperma dalam rahim seorang wanita. Maaf yah karena mengambil perumpamaan yang sedikit saru. Tapi benar, tidak ada perumpamaan yang paling tepat untuk menggambarkan kejadian yang dinamakan mudik selain perjalanan, sekali lagi maaf, sperma di rahim wanita.

Orang Mudik Perjalanan Sperma

Oke, mari kita lihat perjalanan sperma. Penjelasan lebih detail bisa dilihat di youtube dengan kata kunci "The Great Sperm Race". Tapi singkatnya seperti ini, mereka mulai dari jumlah ratusan ribu hinga jutaan dan berada di satu titik awal yang sama: serviks. Dan jalan yang harus mereka lalui sama: kanal serviks, uterus, kemudian tubi falopi. Tujuan mereka sama: ovum.

Berjajar rintangan yang siap mengghadang dan merenggut nyawa tiap sperma sepanjang perjalanan. Yang mati pun tak terhitung sudah jumlahnya. Toh dari jutaan sperma, pada akhirnya hanya satu yang akan dipersilakan untuk membuahi ovum.

Tapi tak peduli apapun yang menghadang dan berapapun jumlah sperma yang mati, sperma tetaplah sperma. Mereka tetap saja berbondong-bondong maju. Berdesak-desakan menantang maut untuk mencapai ovum. Melihat populasi manusia sekarang yang sekitar 7 milyar, sudah pasti kejadian itu telah terjadi berulang kali.

Sudah mendapat gambaran? Yah. Seperti saya pribadi memandang perjalanan sperma, seperti itu jugalah saya memandang mudik. Berbodong-bondong ingin mencapai kampung halaman, berdesak-desakan di jalan, menantang resiko maut. Dan tak peduli berapa banyak jumlah korban jiwa tiap tahunnya, tetap saja jumlah pemudik selalu tinggi.

Oke. Setiap orang berhak pergi ke kampung halaman setiap Idul Fitri setelah satu tahun tinggal di tanah orang. Toh itu kampung halaman punya mereka juga, masak iya dilarang pergi ke sana. Tapi bagi pemudik pun harus menyadari resiko dari mudik itu sendiri. Dan untuk mengantisipasi itu diperlukan manajemen resiko yang baik.

Yang salah bukan resiko mudiknya. Tapi yang salah itu manajemen resikonya.

Mudik BahagiaMudik itu mestinya DISIAPKAN DENGAN BAIK, baik kondisi kendaraannya, perlengkapannya, kondisi fisiknya, kondisi mentalnya, serta mentaati aturan-aturan yang berlaku. Jangan sampai kendaraan tidak prima (mobil yang remnya blong atau kapal laut yang lambungnya berkarat), perlengkapan yang tidak lengkap (mengendarai motor tanpa helm), fisik yang tidak prima (sakit atau lelah), mental yang tidak siap (tergesa-gesa atau sedang marah karena macet), hingga tidak mentaati aturan-aturan (kapal yang kelebihan muatan atau mobil yang mendahului kendaraan lain dengan menerabas markah jalan). Semua itu bisa berujung pada kecelakaan.

Jika salah satu dari hal di atas terjadi, ya jangan dipaksakan. Jujur saja, saya akan lebih memilih untuk menunda acara mudik. Bagi saya, menunda acara mudik HANYA AKAN menghilangkan kesempatan berjumpa dengan keluarga tepat waktu. Tapi jika memaksakan dan akhirnya celaka saat mudik, maka resikonya adalah TIDAK BERJUMPA dengan keluarga untuk SELAMANYA.

Jangan sampai terjadi, niat awal adalah pulang ke kampung halaman tapi yang sampai malah jasad tak bernyawa. Atau momen Idul Fitri yang mestinya dirayakan dengan acara bermaafan dan bersuka cita malah menjadi kelam karena menjadi acara pemakaman anggota keluarga. Atau momen yang mestinya menjadi saat berkumpul dengan keluarga justru menjadi momen saat kehilangan keluarga tercinta. Atau berbagai pengandaian buruk lain karena celaka saat mudik.

Bangsa kita harus benar-benar belajar akan hal ini.

Dan satu lagi hal yang harus kita perhatian dalam manajemen resiko saat mudik, yaitu NIAT. Yah, niat. Bisa saja, kita sudah memperhitungkan segala sesuatu yang berhubungan dengan mudik. Tapi yang namanya celaka dan maut yah tak ada yang tahu, hanya Allah yang mengetahui. Bisa saja tiba-tiba ada bencana alam. Atau dari kita sudah berhati-hati, eh dari orang lain yang sembrono sehingga celaka dan celakanya itu merembet ke orang lain di sekitarnya. Atau faktor X lain yang di luar jangkauan kekuasaan kita.

Maka dari itu kita harus selalu menjaga niat baik selama mudik. Niatnya adalah, BERSILATURAHMI. Bukan yang lain. Bukan niat bertemu calon mertua, atau pacar yang jauh di mata karena LDR, atau untuk mendapat uang "unjung", atau pamer mobil baru, atau apapun itu. Bagaimanapun segala sesuatu tergantung dari niatnya.

Jangan sampai ya, seeorang mendapat celaka saat mudik sedang niatnya mudik salah. Di dunia keluarga sudah sedih karena kehilangan anggota keluarga, ditambah yang meninggal mendapat dosa di akhirat karena mudiknya salah niat. Kalaupun terjadi sesuatu selama mudik, jika mudik itu disertai niat yang benar, Allah pun tahu dan akan menilai mudik orang itu telah tuntas dilaksanakan walau ia tak pernah sampai di kampung halaman.

***

Ngomong-ngomong, saya sendiri tidak pernah merasakan yang namanya mudik. Karena saya adalah putra asli Sidoarjo dan seluruh anggota keluarga ada di kota ini. Mau mudik ke mana? =D Paling jauh ya, mentok, ke rumah nenek dari pihak ibu yang jaraknya 10 Km. Hoh, 10 Km itu tidak terhitung mudik. Terlebih dari pihak ayah, keluarga kami adalah yang tertua. Semenjak meninggalnya kakek, kontan tahun ini justru keluarga adik-adik ayahlah yang berkunjung dan mudik ke rumah kami. Nah loh...

Tapi ayah sering berdoa agar suatu saat saya bisa tinggal di Jerman, Turki, atau Australia. Yah, impian orang tua, kami para anak tak pernah bisa membaca apa isi hati mereka. Dan semoga saat itu benar-benar terjadi, karena jika benar saya akan bisa merasakan yang namanya mudik. =)

Sekian dari saya. Wassalamu'alaikum.

 

Yang tidak pernah mudik,
Rhana Rhadhiyant